Tampilkan postingan dengan label sepakbola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sepakbola. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 November 2012

 

Nama Helenio Herrera tidak mungkin dapat dipisahkan dari bagian perjalanan klub FC Internazionale Milano, berkat jasanya Inter menjadi salah satu klub yang di segani baik di kancah Liga Italia maupun Piala Champions saat itu, bagaimana tidak, Pelatih yang berjuluk "II Mago" ini mampu mempersembahkan 3 Scudetto di musim 1962/63, 1964/65, 1965/66. 2 Piala Champions di musim 1963/64 dan 1964/65. serta 2 Piala Intercontinental  di musim yang sama, total statistik Inter di bawah kepelatihannya selama 366 pertandingan ialah: 205 menang, 93 draw dan juga 68 kalah selama periode kepelatihannya (1960-1968). Tidak salah jiga banyak orang mengatakan Herrera adalah pelatih tersukses dalam sejarah klub ini. 

Salah satu momen yang mungkin paling berkesan  saat itu ialah ketika Inter mampu menjuarai trofi Piala Champions dengan mengalahkan Real Madrid di final yang saat itu merupakan klub tersukses di Eropa setelah mampu menjuarai Piala Champions sebanyak 5 kali berturut-turut. di tahun berikutnya ketika final diadakan di Giuseppe Meazza, Inter kembali meraih juara setelah mengatasi perlawanan wakil portugal, Benfica saat itu. Dan setahun berikutnya Inter berhasil menjuarai Liga Italia yang kesepuluh kalinya. Pada saat ini Inter memasuki masa keemasan dan dikenal oleh banyak orang dengan sebutan La Grande Inter.


 La Grande Inter
 
Herrera juga dikenal sebagai pelatih yang mengembangkan konsep Catenaccio yang merupakan ciri khas permainan Italia dengan pertahanan berbentuk gerendel. Berkat Herrera, Catenaccio semakin dikenal sebagai ciri khas dari sepakbola Italia. Dalam versi Herrera pada tahun 1960, empat pria-menandai pembela erat ditugaskan untuk setiap penyerang lawan sedangkan penyapu tambahan akan mengambil setiap bola lepas yang luput dari jangkauan pembela. Penekanan dari sistem ini dalam sepak bola Italia melahirkan munculnya banyak bek tangguh seperti Gentile, Gaetano, Scirea, Claudio dan pada 1970-an, lalu ada duet Inter Milan Giuseppe Bergomi dan Franco Baresi. Dan juga pada 1980-an kuartet bek Italia di AC Milan: Baresi, Paolo Maldini, Alessandro Costacurta dan Mauro Tassotti. Tahun 1990-an dan 2006 juara Piala Dunia Fabio Cannavaro dan Alessandro Nesta dan banyak orang lain di tahun 2000 dimana tim nasional Italia menjadi terkenal.


Dari polesan tangan Herrera juga dilahirkan beberapa pemain Inter yang menjadi legenda baik di klub maupun timnas Italia. Contohnya seperti Giacinto Facchetti dan juga Sandro Mazzola yang pada saat itu juga menjadi andalan bagi timnas Italia. Herrera mampu membawa Inter menjadi tim yang disegani dengan konsep La Grande Inter-nya. Hasilnya 7 trofi mampu diberikan olehnya bagi klub ini, tentu sebuah pencapaian yang luar biasa bagi seorang pelatih. Dalam sejarah klub, hanya Roberto Mancini yang sanggup memberikan trofi dengan jumlah yang sama dengan Herrera ketika ia melatih Inter di periode 2004-2008.

Herrera yang lahir pada tanggal 10 April 1901 di Buenos Aires, Argentina akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya pada 9 November 1997 akibat gagal jantung dalam usianya yang ke 87 tahun di Venice, Italia.


addio, allenatore !!!

Sabtu, 30 Juni 2012

Eropa, yang merupakan ‘kiblat’ sepakbola dunia ternyata memiliki keragaman yang luar biasa, salah satunya dalam bidang agama. Contohnya, meski di Eropa, ternyata cukup banyak juga pemain-pemain yang beragama islam di sana. Pesepakbola beragam muslim di kompetisi Eropa sendiri bisa dibilang sebuah fenomena karena jumlah mereka yang minoritas. Tak heran jika masalah ini cukup menarik untuk dibahas.
Bertepatan Bulan Ramadhan 2012 (1433 H) ini kompetisi sepak bola eropa segera bergulir bagaimanakah dengan pemain sepakbola yang beragam islam,, apa mereka tetap menjalankan puasa…?.,,Menurut beberapa sumber banyak dari mereka lebih memilih kompetisi dan mengganti puasa dibulan lain namun ada juga yang tetap menjalankan puasa,,Inilah profil beberapa pemain top Eropa yang merupakan seorang muslim dan penjelasan bagaimana mereka menyikapi puasa di bulan Ramadhan ini.

Rami Shaaban
Rami Shaaban mungkin terdengar asing bagi telinga pecinta sepak bola di tanah air, Lahir di Fisksatra Stockholm, 30 Juni 1975, Shaaban berdarah Mesir dari ayahanya dan ibu yang berasal dari Finlandia. Shaaban juga pernah membela Arsenal, dan menjadi kiper tim nasional Swedia,,ia senantiasa melafalkan beberapa ayat sebelum bertanding ia juga salah satu pemeluk Islam yang taat. Dia juga tidak pernah meminum alkohol yang diharamkan, termasuk dugem di klub-klub malam. Shaaban saat ini bermain untuk Hammarby IF.

Samir Nasri
Terbiasa untuk membaca surat Al-Fatihah sebelum pertandingan. Hal ini dilakukannya baik di tingkat klub bersama Arsenal atau ketika berada di timnas Prancis. Namun, untuk puasa Ramadhan, Nasri tidak berani melakukannya. Mengingat jadwal Premier League yang padat plus puasa yang jatuh pada musim panas, Nasri memilih untuk tidak melaksanakan rukun Islam yang wajib bagi umat Islam yang mampu melakukannya ini.

Frederic Kanoute
Menolak menggunakan seragam Sevilla karena disponsori oleh rumah judi, bahkan ketika seragam itu digunakan, Kanoute menutupinya dengan plester hitam. Ketaatan Kanoute dalam mengamalkan ajaran Islam juga mendapat dukungan penuh dari Sevilla. Ia diberi jersey (seragam) khusus tanpa sponsor. Hal itu karena sponsor utama Los Palanganas, 888.com, adalah situs judi yang bertentangan dengan ajaran Islam. Ia juga menyumbangkan seluruh hasil penjualan kaosnya untuk beramal.
Tetap menjalankan ibadah puasa saat Ramadhan meskipun harus bertanding selama 90 menit, dan suhu yang bisa mencapai 40 derajat celcius. Tahun lalu di bulan Ramadhan di Eropa siang hari lebih panjang waktunya daripada malam hari, matahari bersinar selama 13 jam dari pukul 6.30 pagi hingga 20.00. Dan pertandingan biasanya digelar 2 jam sebelum waktu berbuka puasa.
Tahun 2007, Kanoute membayar 700.000 dolar US untuk membeli masjid di Sevilla. Awalnya, komunitas Islam di Spanyol menyewa tempat itu untuk menjalankan sholat, merasa prihatin. Kanoute pun membelinya untuk disumbang kepada umat Islam di Spanyol. Kanoute oleh komunitas Islam di Sevilla diminta membantu dan akhirnya bangunan itu dibeli Kanoute dan sampai sekarang menjadi tempat sholat komunitas Islam di Sevilla.
Yang paling controversial dari Kanoute adalah ketika Israel membombardir Palestina, akhir tahun 2008 hingga awal Januari 2009. Fredrick Kanoute, striker Sevilla yang beragama Islam dan berasal dari Mali, usai menjaringkan bola ke gawang lawan, membuka bajunya untuk memperlihatkan kaos dalamnya yang bertuliskan “Palestine”. Kata Palestina itu ditulis juga dalam beberapa bahasa yang lain. Ini tentu saja dimaksudkan sebagai dukungan Kanoute pada Palestina yang tengah digempur oleh pasukan Israel di Gaza.
Mesut Ozil
Warga negara Jerman yang beragama Islam. Walaupun dibulan Ramadhan ia tak meninggalkan kebiasaanya berdoa dan membaca Al Qur’an. Sesibuk apapun ia selalu berusaha untuk membaca Al Qur’an.
Bahkan ketika akan menghadapi pertandingan Piala Dunia di Afrika Selatan beberapa waktu yang lalu ia selalu membaca ayat-ayat suci agama yang diyakininya itu. Jika sedang membaca Al Qur’an, dirinya yang juga keturunan Turki ini menjelaskan bahwa teman-temannya juga sudah maklum untuk memberikan kesempatan buatnya menyelesaikan bacaan dan tidak buru-buru mengajaknya berbincang-bincang.
Sebagai seorang Muslim, Mesut Ozil merasakan bulan Ramadhan saat ini memberikan banyak keberkahan tersendiri, karena dibulan Ramadhan tahun inilah pamornya makin berkibar dipentas sepakbola Eropa. Pemain yang gemar membaca Al Qur’an ini dibayar mahal oleh klub raksasa Spanyol, REAL MADRID.

Eric “Bilal” Abidal
Sejak masuk Islam, Abidal berusaha menjadi Muslim yang taat. Kariernya di lapangan hijau kian moncer. Penggemar La Liga Spanyol pasti mengenal sosok Eric Abidal. Ia dikenal sebagai bek andal yang memperkuat FC Barcelona dan Timnas Prancis. Ia suka membaca Al Quran sebelum bertanding.
Di setiap sesi latihan klub sepakbola Barcelona, Eric sering terlihat membawa tas kecil, mungkin banyak yang mengira isi tasnya si eric sama seperti teman teman di klubnya barcelona jika latihan bola: sepatu dan perlengkapannya yang menunjang untuk latihan.
Sebenarnya yang eric bawa dan membedakan isi tas kecilnya dengan pemain bola lain adalah alqur’an, Kitab suci Ummat islam di seluruh dunia yang “kini” menjadi agama minoritas di eropa.

Karim Benzema
Striker Real Madrid, Karim Benzema juga menjalankan puasa. Lahir di Lyon, Prancis 19 Desember 1987, Benzema merupakan striker andalan tim nasional Prancis. Sama seperti legenda Prancis, Zinedine Zidane, Benzema juga berdarah Aljazair.
Beruntung bagi Benzema, puasa tahun ini dia tidak sendirian di Santiago Bernabeu. Setidaknya ada Mahmadou Diarra dan Lassana Diarra yang juga beragama Islam.
Ketiganya tetap menjalankan puasa meski harus membela Madrid, tak heran jika tim dokter Madrid terus memantau perkembangan fisik ketiga pemainnya selama bulan Ramadan. Baik Benzema, Mahmadou dan Lassana diberikan nutrisi tambahan agar tidak terkena dehidrasi selama menjalani ibadah puasa tahun ini.
Beruntung bagi Madrid, Ramadan tidak terlalu berpengaruh besar saat mereka tampil.

Sami Khedira
Seperti halnya Ozil, Khedira merupakan pemain timnas Jerman keturunan yang juga memeluk agama islam. Ayahnya berasal dari Tunisia. Tetapi seperti halnya Ozil, Khedira juga tidak melakukan puasa Ramadhan secara penuh. Tentu saja karena tuntutan pekerjaannya. Sebenarnya, ketika masih bermain di VfB Stuttgart, Khedira selalu berpuasa di bulan Ramadhan, tetapi kini ia memilih mengikuti jejak rekan setimnya di Real Madrid tersebut.
“Seorang muslim seharusnya berpuasa selama 30 hari sejak matahari terbit hingga tenggelam. Tetapi saya seorang atlet yang kompetitif, saya membutuhkan tenaga saya, yang tak mungkin saya miliki tanpa makanan,” ujar Khedira dalam sebuah wawancara.
Apa yang dilakukan oleh Khedira dan Ozil ini cukup bisa dipahami mengingat ternyata dewan muslim nya Jerman (seperti MUI di Indonesia) ternyata mengizinkan atlet-atlet profesional untuk tidak berpuasa di bulan Ramadan.

Christian Negouai
Ia terpilih sebagai pemain yang wajib di tes doping dan harus diambil sample urine-nya. Karena Negouai sedang berpuasa maka urine itu tidak mau keluar, Kevin Keegan (Manajer Manchester City kala itu) menyodorkannya air putih untuk diminum agar urine-nya bisa segera keluar,namun Negouai tetap menolaknya karena ia sedang berpuasa. Negouai memilih membayar denda 2.000 pound dari kantongnya daripada harus membatalkan puasa.

Kolo Toure
Mengaku pernah mencoba tetap berpuasa, tapi kondisi latihan berat memaksa ia membatalkan puasanya. “Tapi saya pasti akan menggantinya di hari atau bulan lain. Itu adalah konsekuensi sebagai seorang muslim,” ujar Toure.

Franck Ribery
Mualaf setelah menikahi seorang gadis Perancis keturunan Maroko. Memiliki nama Islam yaitu Frank Bilal Ribery. Menurutnya Islam membawanya pada keselamatan. Islam yang menjadi sumber kekuatannya di dalam maupun di luar lapangan. Di saat ia mengalami masa-masa sulit dalam karirnya, Islam datang memberikan kedamaian. Ribery mengaku sebagai seorang muslim yang tidak pernah meninggalkan sholat wajib 5 waktu.

Nicolas Anelka
Mualaf yang memeluk Islam saat bermain di klub Turki Fenerbache. Memiliki nama Islam yaitu Abdul-Salam Bilal. Dalam wawancara yang dimuat di Match, majalah terbitan Perancis Anelka berkata, “Islam adalah sumber kekuatan saya di dalam maupun di luar lapangan. Saya menjalani karier yang berat. Saya kemudian berketetapan hati untuk menemukan kedamaian. Dan akhirnya saya menemukan Islam.” Anelka tetap menjalankan puasa 1 bulan penuh meskipun di tengah kompetisi.

Momo Sissoko, Sulley Muntari dan Mohamadou Diarra
Mereka adalah pesepakbola muslim yang tetap memilih menjalankan puasa di bulan Ramadhan meskipun ada pertandingan,menurut dia,berpuasa justru memberi kekuatan untuk mengatasi kesulitan.

Mehdi Mahdavikia
Tidak mengalami hambatan berarti saat Ramadhan. Pemain yang kini berusia 32 tahun ini menata dietnya sedemikian rupa sehingga sanggup menjalani laga-laga keras di Liga Jerman (Bundesliga). “Saya selalu makan dan minum banyak saat sahur. Tanpa minum saat latihan pagi dan sore tak berpengaruh buat saya,” kata Mahdavikia. Menjalani ibadah puasa dan bermain di salah satu liga keras di Eropa, diakui Mahdavikia sangat berat. Tapi, latihan dua kali sehari tak mengganggu langkah gelandang dan sayap kanan Iran di Piala Dunia 1998 dan 2006 ini.

Sumber: 
  • Google
  • https://akimlinovsisa.wordpress.com/2011/08/23/cerita-tentang-pemain-sepak-bola-muslim-di-eropa/

Kamis, 08 Maret 2012

Berbagai Macam Suporter Inter

Dalam rangka memperingati perayaan 104 tahun berdirinya klub favorit ane tercinta, FC Internazionale SpA yang jatoh tanggal 9 Maret 2012, kali ini ane bikin tulisan mengenai berbagai macam suporter dari Inter, ya seperti kita ketahui Inter merupakan salah satu klub dengan suporter paling fanatik di dunia. So, inilah berbagai macam suporter dari Inter. Check This Out!!




Curva Nord 69: Mendampingi selama 40 tahun


Tifosi setia yang selalu hadir di kala Inter bertanding. Loyalitasnya patut diacungi jempol.



Dalam beberapa tahun terakhir, kerusuhan baik di dalam maupun di luar stadion sering pecah di Italia. Banyak yang menganggap segala insiden tak lepas dari ulah kelompok suporter garis keras yang menamakan dirinya Ultras. Dengan segala fanatismenya, Ultras dianggap sering menimbulkan masalah hampir di setiap pertandingan, terlebih yang bernuansa rivalitas.


Namun, ada hal menarik dari kehadiran Ultras di Italia. Sebagai pendukung klub yang paling loyal, Ultras ternyata memiliki hak suara untuk ikut menentukan kebijakan klub. Ultras di Italia juga cenderung lebih terorganisir, bahkan hampir menyerupai sebuah organisasi politik.


Jika dipersempit, Curva Nord 69 (penghuni tribun utara Stadion Giuseppe Meazza), menjadi salah satu dengan jumlah anggota terbanyak di Italia. Menurut data yang dikeluarkan La Republica, Inter menguasai sekitar 16 persen fans fanatik sepak bola di Italia. Mereka hanya kalah dari Juventus (28%), dan penghuni Curva Sud, AC Milan (23%). Namun mereka unggul atas Napoli (9%), AS Roma (7%), dan Lazio (3%).


Curva Nord 69 menjadi salah satu kelompok suporter yang paling disegani di Italia. Bukan hanya dari tindakan anarkis mereka di lapangan, tapi juga dari sisi positif. Sudah 40 tahun sejak 1969 mereka mengabdikan dirinya guna menyemangati setiap Inter bertanding. Jelas dengan usia setua itu, pengaruh mereka pun cukup kental. Bahkan, mantan kapten AC Milan, Paolo Maldini pun sempat mengakui loyalitas pendukung setia rivalnya itu. “Selama ini mereka memang kerap membuat kami khawatir di lapangan, namun saya mengakui loyalitas mereka,” kata dia.

Curva Nord 69 bukan hanya didominasi satu kelompok tifosi saja. Inter memiliki beberapa kelompok Ultras yang selalu setia mendampinginya di setiap laga. Salah satunya Boys S.A.N (Squadre d'Azione Nerazzurre), kelompok Ultras tertua ke dua La Curva Milano setelah Fossa dei Leoni dari Curva Sud. Selain itu, ada juga Ultras Inter, Viking Inter, Brianza Alcoolica, Irriducibili, dan beberapa kelompok minor lain. Mereka inilah yang selalu menyemangati I Nerazzurri.

LA Curva Nord 69 Milano


1. Boys S.A.N (Squadre d'Azione Nerazzurre)



Kelompok tertua di Curva Nord 69. Berdiri pada 1969, hanya selang setahun setelah Fossa dei Leoni pertama kali muncul. Boys diambil dari nama anak nakal di sebuah komik bernama serupa. Di era 80-an Boys S.A.N kian ditakuti sebagai kelompok yang kerap membuat ulah. Namun, sejak awal 90-an, Boys S.A.N meminimalisir aksi anarkis, dan lebih fokus mengekspresikan fanatisme melalui berbagai koreografi di stadion. Sekadar info, Boys S.A.N terbentuk meneruskan ide pelatih Inter ketika itu, Helenio Herrera yang menginginkan terbentuknya sebuah kelompok suporter yang terorganisir dengan rapih.


2. Ultras Inter (Forever Ultras)



Di Curva Nord, Ultras menjadi yang tertua ke dua setelah Boys S.A.N. Mereka berdiri sejak 1975 dengan nama Forever Ultras sebelum diganti pada 1995. Pelopornya adalah dua pemuda bernama Luciano dan Curzio, yang pertama kali memunculkan spanduk bertuliskan Forever Ultras di Curva Nord, tepat berdampingan dengan Boys S.A.N. Sejak 1997, Ivan Renato menjadi sutradara Ultras setelah meneruskan era kepemimpinan sebelumnya.


3. Viking Inter



Kelompok ketiga di Curva Nord ini terbentuk pada 1984. Viking juga dikenal sebagai salah satu pendukung beraliran sayap kanan paling loyal di Italia. Sayang, mereka kerap bersikap rasis. Kebetulan, Viking memang berhubungan sangat dekat dengan Blood & Honour Varese (kelompok suporter yang menolak anti-rasisme di sepak bola). Viking pun menjadi sangat menonjol di Curva Nord dengan indentitas bendera paling besar di antara suporter Ultras Inter lainnya.


4. Brianza Alcoolica


Brianza Alcoolica (semangat Brianza) memang baru resmi didirikan pada November 1985. Namun, berbagai spanduk bertuliskan nama kelompok mereka sudah muncul beberapa tahun sebelumnya di Madrid, Spanyol. Dipelopori oleh beberapa orang yang merasa tidak cocok dengan segala kekerasan Curva Nord, Brianza Alcoolica memisahkan diri dengan idealisme mereka untuk menciptakan hiburan di stadion. Mungkin karena itu pula Brianza Alcoolica menjadi kelompok dengan jumlah suporter paling sedikit di antara lima lainnya.


5. Irriducibili


Irridubicili menjadi kelompok paling kontroversial di antara Ultras Inter lainnya. Berdiri sejak 1988, kelompok ini juga dikenal dengan nama “Skins” ini langsung membuat kericuhan dengan menyerang setiap pendukung lawan yang datang ke Giuseppe Meazza. Ciri khas Irridubicili adalah maskot seekor anjing hitam sebagai lambang kejahatan atau keonaran bernama Muttley. Dengan slogan “Non basta essere Bravi bisogna essere I migliori” (untuk menjadi yang terbaik, tidak cukup dengan bersikap baik), tak heran jika jika Irridubicili kerap berbuat onar di stadion. Bahkan mereka dengan terang-terangan mengaku setiap mendukung Inter, tak akan pernah lepas dari minuman beralkohol.


6. Milano Nerazzurra



Kelompok ini memang lebih kecil dibanding Boys SAN atau lainnya. Namun, mereka justru mampu tampil dengan warna-warna mencolok melalui koreografinya di sisi kiri Curva Nord. Milano Nerazzurra juga mendapat julukan “Potere Nerazzurro” atau Si Hitam Biru yang Kuat. Sejak berdiri sekitar akhir 80-an, Milano Nerazzurri memang telah menyatakan ketidakcocokannya dengan saudara tua mereka, Boys SAN. Tak heran jika letak kedua kelompok ini berjauhan, yang satu di sisi kiri, dan yang satunya di sisi kanan.


7. Boys Sez Roma



Meski Boy Sez Roma lahir dari sekelompok laki-laki yang berasal dari Kota Roma, mereka justru merupakan pendukung fanatik Inter Milan. Sejak awal berdiri pada 1979 lalu, kelompok ini memang membatasi anggotanya di usia 18-30 tahun, dan tentunya dengan satu tujuan mendukung Inter Milan. Boy Sez Roma mengambil posisi di sisi kanan Curva Nord dan berhubungan sangat dekat dengan Boys

Nah, di Indonesiapun ada Kelompok Interisti yang membentuk Organisasi bagi Interisti di Indonesia yang terkenal mungkin ada dua yaitu Inter Club Indonesia (ICI) sebagai ofisial resmi Interisti di Indonesia dan ada Indonesia Nerazzurra (IN), dan berikut sejarah singkatnya brader/sista:

Inter Club Indonesia (ICI)



Sejarah Inter Club Indonesia

Sejarah organisasi Inter Club Indonesia bermula dari mailing list \n inter-mania@yahoogroups.comyang dibentuk pada 30 Juli 2001. Tujuan awal dibuatnya mailing list ini adalah sebagai wadah untuk saling berbagi dan sarana untuk bertukar informasi seputar klub Inter Milan. Pada akhir juni 2003, teman-teman di mailing list ini ditawari untuk melakukan interview oleh SCTV yang sedang membuat format acara baru yaitu Centro Campo. Salah satu bentuk program acaranya adalah mengadakan wawancara dengan fans club Italia yang ada di Indonesia (Jakarta).

Pada akhir 2006 tepatnya tanggal 10 September 2006, para anggota Internazionale Indonesia Fans Club (I2FC) kembali berkumpul mengadakan gathering sekaligus mengadakan rapat pembentukan pengurus di Food Court Mall Taman Anggrek untuk menghidupkan roda organisasi yang sempat vakum karena kesibukan para pengurusnya. Hasil rapat/gathering pembentukan kepengurus tersebut antara lain adalah :

• Menyatakan dibentuknya kepengurusan baru dengan nama Inter Club Indonesia (ICI) dan sekaligus menyatakan berakhirnya kepengurusan Internazionale Indonesia Fans Club (I2FC) lama.

Seiring dengan meningkatnya prestasi Inter sejak era kepelatihan Mancini, member Inter Club Indonesia pun semakin meningkat dan diharapkan akan terus berkembang. Kegiatan2 yang dilakukan rutin oleh ICI antara lain kegiatan olah raga (futsal), nonton bareng, merupakan sarana untuk lebih mempererat rasa kekeluargaan dan kekompakan diantara anggota.

Kepengurusan Periode 2008 - 2011

Bertempat di Izzi Pizza Pancoran, Minggu 12 Oktober 2008, ICI mengadakan acara gathering untuk memilih pengurus2 baru untuk menggantikan pengurus lama yang habis masa jabatannya. Program kerja kepengurusan baru ini terfokus kepada persiapan untuk menjadi Official Fans Club yang diakui oleh FC INTER, menjadi bagian dari Inter Club yang telah ada sebelumnya dan tersebar di seluruh dunia. Semoga cita2 luhur dan impian setiap Interisti Indonesia ini dapat menjadi kenyataan.

Dengan kepengurusan baru ini diharapkan organisasi Inter Club Indonesia dapat semakin berkembang sebagai wadah untuk menampung aspirasi para pecinta Inter Milan yang ada di Indonesia.

situs webnya: http://www.interclubindo.com

Indonesia Nerazzurra


Kecintaan yang besar terhadap Internazionale Milan akhirnya membuat beberapa orang di Bandung mendirikan kelompok suporter Bandung Nerazzurra (BN) pada 22 Maret 2009. Tak lama kemudian, BN bertransformasi menjadi Indonesia Nerazzurra (IN) yang ditandai dengan peluncuran website mereka, www.indonesianerazzurra.com.

“Berawal dari keinginan founder untuk untuk memperluas cakupan organisasi dan munculnya sambutan baik dari beberapa daerah di Indonesia, akhirnya kami bertransformasi menjadi IN,” kata Wan Havid Adris, Divisi Membership IN.

Sambutan itu berbuah dalam pertumbuhan anggota IN yang kini mencapai 86 orang. Anggota-anggota tersebut kini tersebar di lima kota di Indonesia, yakni di Bandung sebagai pusat, Distretto Cirebon, Distretto Baturaja, Distretto Padang, sampai Distretto Ambon.

“Rencana pengembangan distretto kita di kota lain pasti ada. Kami tak memiliki patokan untuk menambah distretto mana yang akan kami pilih selanjutnya. Kami terbuka untuk daerah mana saja yang bersedia bergabung dengan IN. Di atas segalanya, kami memakai konsep quality over quantity,” jelas Havid. “Dengan konsep ini berarti kami lebih mementingkan kualitas anggota daripada jumlah anggota. Agar rasa kekeluargaannya lebih kental terasa, meski dengan jumlah anggota yang sedikit.”

Selain konsep itu, IN juga mengusung jargon Noi Siamo Noi yang kurang lebih berarti “Inilah Kami”. Lewat jargon ini, IN ingin menunjukkan eksistensi mereka sebagai kelompok suporter Inter Milan. “Inilah kami sang pendukung Inter, hanya kami tidak ada yang lain bagi kami,” tegas Havid lagi.

Guna memperkuat identitas mereka, IN menggunakan gambar ular dalam perisai sejak berdiri pada 22 Maret lalu. Penggunaan logo ini bukan tanpa alasan. “Kami menggunakan logo itu untuk menghormati legenda Milano, yaitu Il Biscione (Si Ular Besar). Gambar ular itu kami gabungkan dengan perisai yang kami pilih sebagai pertanda identitas pendukung dan pembela sang idola, I Nerazzurri,” bilang Havid.

TAK MINIM KEGIATAN

Meski baru berusia muda dan harus belajar banyak dalam menjalankan roda organisasi, ternyata tidak membuat IN minim kegiatan. Seperti halnya kelompok suporter lainnya, IN selalu menggelar acara nonton bareng Inter di salah satu kafe di Kota Bandung di bilangan Ciumbuleuit dan menggelar kegiatan rutin futsal setiap minggunya.

“Kami juga pernah membentangkan spanduk IN di salah satu sudut Stadion Si Jalak Harupat guna mendukung timnas U-19 Indonesia di babak kualifikasi Piala Asia lalu. Hal tersebut membuktikan IN masih memperlihatkan kepedulian terhadap perkembangan sepak bola nasional,” cetus Havid.

Semua kegiatan itu direkam dalam forum dunia maya dengan alamat http://www.indonesianerazzurra.com . Dalam forum ini juga direkam berbagai interaksi antaranggota berupa forum diskusi, galeri foto kegiatan, artikel, dan lainnya. “Forum ini sangat berguna sebagai ajang silaturahim sesama Interisti se-Indonesia dan sebagai ajang untuk saling tukar informasi,” kata Havid.

Ke depan, IN ingin terus mengalir layaknya air dengan mengikuti perkembangan zaman. “Untuk saat ini kami memang belum memiliki AD/ART, tapi kami sedang dalam proses pembuatannya. Meski belum ada, namun kami bertekad untuk mempererat silaturahmi antaranggota yang kebetulan sesama Interisti. Kami ingin wadah ini diakui sebagai organisasi resmi Inter, meski itu bukan prioritas utama saat ini,” kata Havid.

“Apa pun itu, pada dasarnya, IN adalah wadah penyaluran hobi bersama orang-orang yang memiliki hobi sama. Itu saja,” pungkas dia.(Ruri)

itu tadi sejarah terbentuknua IN, sekarang website resmi Indonesia Nerazzurra berganti menjadi www.indonesia-nerazzurra.com

situs webnya: http://indonesia-nerazzurra.com/IN/

Gak nyangka, ternyata banyak juga ya kelompok-kelompok dari suporter Inter, tapi yang pasti meskipun kita saling berbeda tujuan kita satu brader/sista ngedukung Inter apapun yang terjadi, seperti kata Bang Bepe "Saya akan tetap mendukung Inter dengan Siapapun Pemainnya dan Siapapun Pelatihnya serta Apapun Prestasinya".

ANNI 104th FC Internazionale Milano
Hope the Next Season better than This Season
FORZA INTER PER SEMPRE
-salam-

sumber:
  • http://gilrandypraira.blogspot.com/2010/12/macam-suporter-inter-tanpa-milan.html
  • http://google.com
  • http://www.facebook.com/InterClubIndonesia
  • http://indonesia-nerazzurra.com/IN/
  • http://www.interclubindo.com

Rabu, 01 Februari 2012

Welcome Februari!!!

Setelah sebelumnya ane membahas Catenaccio, pada kesempatan kali ini ane pengen ngeshare juga nih mengenai Sistem permainan Total Football, ya yang penggemar Belanda pasti tidak asing lagi dengan kata-kata "Total Football" permainan menyerang indah nan menawan yang ditunjukan Timnas Belanda pada Piala Dunia 1974 dan mengantarkan mereka ke final dan bertemu Jerman Barat, tapi sayangnya Total Football Belanda tidak cukup kuat untuk melawan gempuran para pemain Jerman Barat pada waktu itu yang di pimpin oleh 'Der Kaizer' Franz Beckenbauer dan Gerd Muller, meskipun saat itu Belanda unggul terlebih dahulu lewat gol penalti Johan Neeskens, namun mereka tetap harus mengakui keunggulan para pemain Die Mannschaft 2-1. Namun terlepas semua itu para pemain Belanda dengan Total Football-nya mampu menyuguhkan permainan menyerang dan bertahan yang apik dan menawan kepada khalayak. Nah disini ane pengen mengulas tentang sistem "Total Football" itu sendiri yang beberapa artikelnya ane dapet dari berbagai sumber. Cekidoot...

Kapten Belanda pada Final Piala Dunia 1974 Johan Cruijff bersalaman dengan Kapten Jerman Franz Beckenbauer

Pertama ane ambil artikel dari wikipedia.com
"Total Football" (Belanda: totaalvoetbal) adalah taktik permainan yang memungkinkan semua pemain bertukar posisi (permutasi posisi) secara konstan sambil menekan pemain lawan yang menguasai bola. Dengan demikina taktik ini mengharuskan tim berisi para peamin yang mempunyai skill menyerang dan bertahan yang sama bagusnya serta memilki fisik prima unutk bisa tampil konstan selama 90 menit. Taktik ini pertama dipopulerkan oleh klub Ajax Amsterdam pada tahun 1969 sampai 1973. Tim Nasional Belanda kemudian mengadopsi gaya ini pada Piala Dunia 1974 dan terus menjadi ciri khas permainan tim Oranje dan Ajax Amsterdam sampai sekarang. Taktik ini diperkenalkan pertama kalinya oleh Rinus Michels yang juga menjadi pelatih Ajax Amsterdam dan Oranje. Gaya permainan ini kemudian dimodifikasi lagi oleh Johan Cruijff pada saat ia melatih FC Barcelona.
Masa keemasan taktik ini mencapai puncaknya ketika Ajax Amsterdam mencetak rekor kandang selalu menang dalam 46 pertandingan (46-0-0) selama dua musim (1971/72 dan 1972/73) dan meraih 5 titel juara (Juara Liga, Piala KNVB, Piala Champion, Piala Super Eropa dan Piala Interkontinental).
yang kedua ane ambil artikel dari http://www.detiksport.com/sepakbola/read/2009/03/02/134622/1092825/425/totalitas-total-football
London - Total Football bagi saya adalah sistem permainan sepakbola yang paling menarik. Tetapi memahami Total Football ternyata tidak segampang yang saya duga. Berulangkali membaca berbagai literatur dan artikel sepakbola, susah menemukan penjelasan mengapa dan bagaimana Total Football muncul. Hanya dengan memahami mengapa dan bagaimana, kita bisa memahami esensi sesuatu.

Yang standar tentu saja kita tahu bahwa sistem ini pertama kali muncul di Belanda dengan permainan bertumpu pada fleksibilitas pertukaran posisi pemain yang mulus. Posisi pemain sekadar kesementaraan yang akan terus berubah sesuai kebutuhan. Karenanya, semua pemain dituntut untuk nyaman bermain di semua posisi.

Penjelasan paling memuaskan malah bukan saya dapat dari orang Belanda, melainkan seorang penulis Inggris yang tergila-gila dengan sepakbola Belanda. David Winner menulis buku yang kalau diterjemahkan bebas kira-kira berjudul, "Oranye Brilian -- Jenius dan Gilanya Sepakbola Belanda".

Orang Belanda sendiri sampai terkagum-kagum dan mengatakan, ''Ah, jadi begitukah cara berpikir kami.'' Banyak pemain bola Belanda seperti tersadarkan pada sosok yang berada di dalam kaca ketika mereka bercermin.

Winner tidak membahas sepakbola semata. Menurutnya Total Football hanyalah pengejawantahan ''psyche'' paling dasar warga Belanda dalam memahami kehidupan. Benang merah Total Football juga ada dalam karya seni, arsitektur, dan bahkan tatanan sosial budaya masyarakat Belanda.

Berlebihan? Mungkin. Namun penjelasannya sungguh masuk akal.

Kita semua tahu ukuran lapangan sepakbola lebih kurang sama di mana-mana, sehingga ruang permainan selalu sebenarnya sama. Tapi orang Belanda sadar bahwa ruang juga adalah persoalan abstrak di dalam kepala. Membesar dan mengecilnya ruang tergantung pada cara mengeksploitasinya.

Total Football, demikian jelas buku itu, adalah persoalan ruang dan eksploitasinya itu, bukan yang lain. Fleksibilitas posisi pemain, pergerakan pemain, semuanya adalah konsekuensi dari upaya untuk menciptakan ruang agar bisa dieksploitir semaksimal mungkin.

Prinsip dasarnya sebenarnya sangat sederhana. Besar kecilnya lapangan sepakbola walau ukurannya sama, tetapi di benak bisa berubah tergantung siapa yang bermain di dalamnya.

Misalnya, begitu pemain Belanda menguasai bola maka mereka akan membuat lapangan seluas mungkin. Pemain bergerak ke setiap jengkal ruang yang tersedia. Di benak lawan lapangan akan tampak begitu lebar.

Atau, begitu lawan menguasai bola, ruang harus dibuat sesempit mungkin. Pemain yang terdekat dengan pemain lawan yang menguasai bola dituntut untuk menutupnya secepat mungkin, tidak peduli apakah itu pemain bertahan atau bukan. Bisa satu bisa dua, bahkan tiga. Tekanan harus dilakukan secepat mungkin bahkan ketika bola masih ada di jantung pertahanan lawan. Lawan terjepit dalam benak bahwa lapangan begitu sempit.

Memperlebar atau mempersempit ruangan di benak lawan tentu bukan barang mudah. Harus ada kemampuan untuk mencari ruangan. Pergerakan yang kompak. Cara mengumpan bola yang eksploitatif atas ruang yang tersedia, entah melengkung, lurus, melambung, dll. Pendeknya dibutuhkan pemahaman geometri ruangan yang tidak sederhana.

Persoalannya adalah, mengapa hal ini tidak terpikirkan oleh orang lain sebelumnya? Dan mengapa orang Belanda yang bisa melakukannya?

Jawabnya, menurut buku itu, didapat dari kondisi alam Belanda.

Bangsa Belanda secara intrinsik bangsa yang spatial neurotic (tergila-gila oleh ruangan ataupun pemanfaatannya). Kondisi alam memaksa mereka demikian. Lima puluh persen tanahnya berada di bawah permukaan laut. Sementara sisanya terlalu sempit untuk jumlah penduduk yang berjubel.

Terus menerus bangsa ini melakukan reklamasi untuk memperluas daratan. Dengan sadar persoalan tanah mereka atur dengan sangat disiplin dan ketat. Eksistensi bangsa ini tergantung bagaimana mereka merawat tanah yang tak seberapa mereka punya. Kanal, selokan air, bendungan kecil dan besar, teratur rapi membelah setiap jengkal tanah yang mereka punya.

Belanda hingga saat ini adalah negara paling padat dalam ukuran per meter persegi, dan pengaturan tanahnya adalah yang paling teratur di muka bumi.

Namun seberapa pun mereka mencoba, seberapa pun disiplinnya, tanah tidak akan pernah cukup tersedia.

Lalu apa yang dilakukan?

Jawabnya ada di daya khayal, di benak, di alam abstraksi. Di samping secara fisik mereka mencoba memperluas wilayah darat mereka, mereka juga menciptakan ruang yang luas dialam khayal mereka.

Kalau Anda kebetulan datang ke Eropa, bandingkanlah tata kota Belanda dengan negara lain. Kita akan segera sadar bahwa Belanda memang lebih sempit tapi tata kotanya dibuat sedemikian rupa rapi, sehingga terasa sangat longgar. Dibanding negara manapun di dunia, tata kota di Belanda adalah yang paling kompak di dunia.

Arsitektur bangunannya, baik yang tua maupun modern, terasa sangat inovatif, dengan sudut yang sering tidak normal, bentuk bangunan yang tidak umum, aneh, tetapi kesannya selalu sama—longgar dan lapang. Karena semua lekuk ketidaknormalan adalah bagian dari upaya untuk menciptakan ruang tambahan di alam khayal tadi.

Bahkan benak juga dilonggarkan untuk urusan norma sosial. Kalau etika Protestan semarak di Belanda di awal kelahirannya, sangatlah bisa dimengerti. Mereka secara instingtif akan memberontak terhadap segala sesuatu yang sifatnya mengukung. Dalam kasus kelahiran Protestan tentu saja pemberontakan atas kungkungan ajaran Katolik saat itu.

Proses itu terus berlanjut hingga sekarang. Kita tahu norma sosial Belanda adalah yang paling longgar di Eropa. Kelonggaran yang tetap diatur. Misalnya, mainlah ke Vondell Park di Amsterdam, bolehlah Anda menghisap ganja atau mariyuana dengan santai. Padahal di negara lain sembunyi-sembunyi pun Anda tidak boleh.

Jejak-jejak spatial neurotic ini bisa kita temukan dengan mudah di karya-karya seni mereka bahkan di kehidupan politik, tetapi kembali ke persoalan sepakbola, mentalitas pemain sepakbola juga sama persis. Ketika mereka turun ke lapangan, benak mereka selalu bermain-main dengan keinginan untuk menciptakan ruangan selonggar mungkin, lalu mengeksploitasinya.

Ketika Rinus Michel membawa Ajax menjadi juara Piala Champions tahun 1971, Eropa tersadarkan sebuah sistem baru yang mulai sempurna telah lahir. Sistem yang lahir dari psyche orang Belanda yang tergila-gila dengan ruang dan pemanfaatannya. Dan ketika Michel membawa Belanda ke final Piala Dunia 1974 lahirlah istilah Total Football.

Total Football sendiri sebenarnya meminjam penamaannya dari gerakan sosial yang digagas para arsitek-filosof terkemuka Belanda sekitar tahun 1970-an. Sebuah gerakan bernama Total. Memahami kehidupan perkotaan secara menyeluruh: mengatur urbanisasi, lingkungan, dan pemanfaatan energi dalam satu totalitas. Agar ruang yang tersedia di Belanda bisa termanfaatkan secara maksimal. Dan sepakbola adalah sebuah hiburan bagian dari pendekatan yang menyeluruh itu. Totalitas. Namanya: Total Football.
Tahun 1974, skema total football ini diperagakan dengan amat gemilang oleh tim nasional Belanda dibawah pimpinan sang kapten, Johan Cruyff. Semua pengamat bola di segenap penjuru dunia dibuat tertegun-tegun dengan pola dan kualitas permainan yang diperagakan oleh tim Belanda 74 ini. Hampir semua koran di dunia pada saat itu menyebutnya sebagai sebuah revolusi dalam sejarah permainan sepak bola.
Kita sendiri berharap skema total footbal ini bisa terus diperagakan. Tim Spanyol dalam Kejuaraan Eropa 2008 lalu telah memeragakannya dengan cukup baik. Kita tidak ingin skema pemianan bertahan a la Italia yang menguasai dunia. Italia adalah tempat lahirnya konsep Catenaccio, sebuah konsep sepak bola bertahan. Dan dunia menangis ketika negative football Italia yang diperagakan Paolo Rossi dkk berhasil menjadi Juara Dunia 1982, menaklukan tim sepakbola indah yang dipimpin Zico dan Socrates.
Sepakbola masa depan adalah sepakbola yang indah. Sebuah permainan yang tak hanya ingin menang, namun menang dengan cara permainan yang penuh pesona. Seperti tim Belanda 1974, atau Tim Brasil 1970 dibawah Pele, atau Tim Argentina 1986 dibawah Maradona, atau Tim Perancis 1984 dibawah Michael Platini.
Jadi jelaslah kalo Total Football memberikan warna tersendiri dalam sepakbola di saat banyak sistem permainan sepakbola seperti Italia dengan Catenaccionya, Inggris dengan Kick n Rushnya ataupun Brazil dengan Joga Bonitonya.

Rinus Michels "Sang Maestro Total Football"

skema Total Football ala Rinus Michels
No tawuran No anarki
Just Love Football
-Salam-
Sumber:



Sabtu, 28 Januari 2012

Iseng-iseng di malem minggu kali ini ane pengen bahas tentang Catenaccio, ya siapa yang tidak kenal dengan Catenaccio disaat banyak negara lain terkenal dengan gaya permainan sepakbola taktis yang mengandalkan kecepatan dan kemampuan olah bola seperti Total Football di Belanda, Kick n Rush di Inggris, Tiki Taka di Spanyol maupun Joga Bonito-nya Brazil yang mengedepankan sepakbola indah, di Italia pada dekade tahun 60-an mengembangkan sistem pertahanan Catenaccio. Di Italia, catenaccio berarti "pintu-baut", menyiratkan pertahanan backline yang sangat terorganisir dan efektif yang ditujukan untuk mencegah terjadinya gol.

Sejarah Catenaccio

Sistem ini pertama kali dibuat terkenal oleh Franco Helenio Herrera-Argentina pelatih Internazionale yang menciptakan 'La Grande Inter' pada dekade 1960-an.

Sistem Catenaccio awalnya dipengaruhi oleh verrou ("doorbolt / rantai" dalam bahasa Perancis) sistem ini diciptakan oleh pelatih Austria Karl Rappan. Sebagai pelatih dari Swiss pada 1930-an dan 1940-an, Rappan memainkan penyapu defensif disebut verrouilleur, yang sangat defensif dan diposisikan tepat di depan kiper. Pada tahun 1950, Nereo Rocco mulai merintis sistem ini di Italia saat menangani Padova, di mana nantinya sistem ini yang akan digunakan dan dikembangakan lagi oleh tim Internazionale dari awal 1960-an.

Rappan menciptakan sistem verrou, diusulkan pada tahun 1932 ketika melatih Servette, dilaksanakan dengan empat pembela tetap, memainkan sistem man-to-man menandai ketat, ditambah playmaker di tengah lapangan yang bermain bola bersama dengan dua sayap lini tengah.

Sistem Verrou ala Rappan

Taktik Rocco, sering disebut sebagai Catenaccio "nyata", yang muncul pertama kali pada tahun 1947 dengan Triestina: modus yang paling umum dari operasi adalah formasi 1-3-3-3 dengan pendekatan tim defensif ketat. Dengan catenaccio, Triestina selesai Serie A turnamen di tempat kedua mengejutkan. Beberapa variasi 1-4-4-1 dan 1-4-3-2 meliputi formasi.

Inovasi kunci dari Catenaccio adalah pengenalan tentang peran libero, atau penyapu, pemain diposisikan di belakang garis tiga bek. Peran penyapu adalah untuk memulihkan bola longgar, meniadakan striker lawan dan double-tanda bila diperlukan. Inovasi penting lainnya adalah serangan balik, terutama didasarkan pada umpan-umpan panjang dari pertahanan.

Dalam versi Herrera pada tahun 1960, empat pria-menandai pembela erat ditugaskan untuk setiap penyerang lawan sedangkan penyapu tambahan akan mengambil setiap bola lepas yang luput dari jangkauan pembela. Penekanan dari sistem ini dalam sepak bola Italia melahirkan munculnya banyak bek tangguh seperti Gentile, Gaetano, Scirea, Claudio dan pada 1970-an, lalu ada duet Inter Milan Giuseppe Bergomi dan Franco Baresi. Dan juga pada 1980-an kuartet bek Italia di AC Milan: Baresi, Paolo Maldini, Alessandro Costacurta dan Mauro Tassotti. Tahun 1990-an dan 2006 juara Piala Dunia Fabio Cannavaro dan Alessandro Nesta dan banyak orang lain di tahun 2000 dimana tim nasional Italia menjadi terkenal.

Sistem Catenacci ala Herrera (La Grande Inter)

Perkembangan Catenaccio

Selama bertahun-tahun, Catenaccio asli telah perlahan-lahan ditinggalkan bagi yang lain, pendekatan taktis lebih seimbang, khususnya, meningkatnya popularitas diperoleh oleh pendekatan berbasis menyerang seperti Total Football telah memberikan kontribusi untuk membuat taktik catenaccio masa lalu.

Catenaccio nyata tidak lagi digunakan dalam dunia sepak bola modern. Dua karakteristik utama dari gaya ini - orang-to-man marking dan posisi libero - tidak lagi digunakan. Apa yang banyak [siapa?] Pertimbangkan Catenaccio agak gaya hiper-defensif atau mundur untuk membela dari tim, dengan gerakan maju langka. Gaya hiper-defensif masih sering disebut sebagai Catenaccio. Saat ini, Catenaccio digunakan terutama oleh tim yang lebih lemah, dalam rangka untuk mengurangi kesenjangan teknis melawan tim kuat dengan menunjukkan pendekatan yang lebih fisik untuk sepakbola. Hilangnya lambat dari peran petugas forensik di sepak bola modern telah juga memberikan kontribusi terhadap penurunan dalam penggunaannya.

Sistem Catenaccio sering dikritik karena mengurangi kualitas permainan sepak bola sebagai tontonan. Dalam bagian-bagian tertentu dari Eropa, itu menjadi sinonim dengan sepakbola negatif karena fokusnya adalah pada membela begitu banyak. Banyak wartawan dan pelatih telah menyerukan ini syle bermain "sepak bola anti-".

Satu kesalahan yang sering adalah untuk mendefinisikan Catenaccio sebagai sistem pertahanan taktis yang digunakan oleh sebuah tim sepak bola. Ini sebenarnya tidak benar, karena Catenaccio hanyalah salah satu taktik defensif yang mungkin yang dapat digunakan. Saat ini, Catenaccio digunakan kurang dan kurang oleh tim atas, dan umumnya hanya dalam kondisi tertentu, seperti ketika menderita inferioritas numerik menyusul. Mengirim off, atau ketika perlu untuk membela scoreline marjinal sampai akhir pertandingan

Catenaccio sering dianggap biasa dalam sepakbola Italia, namun, sebenarnya jarang digunakan oleh tim Serie A Italia, yang sebaliknya lebih memilih untuk menerapkan beberapa, lainnya lebih modern, sistem taktis, seperti 4-4-2 dan lain-lain. Hal ini tidak berlaku untuk tim sepakbola nasional Italia, namun. Pelatih sebelumnya Italia, Cesare Maldini dan Giovanni Trapattoni, digunakan Catenaccio di tingkat internasional, dan keduanya gagal mencapai puncak. Italia, di bawah Maldini, kalah adu penalti di Piala Dunia 1998 babak perempat final, sementara Trapattoni hilang di awal babak kedua di Piala Dunia 2002 dan kalah di UEFA Euro 2004 selama putaran pertama, meskipun setelah ini, Trapattoni akan berlaku Catenaccio sepakbola berhasil, mengamankan gelar Liga Portugal dengan Benfica. Namun, Dino Zoff digunakan untuk digunakan baik untuk Italia, mengamankan satu tempat di final Kejuaraan Eropa tahun 2000, yang hanya hilang Italia pada aturan "emas tujuan".

Namun, pelatih asal Jerman Otto Rehhagel menggunakan sistem serupa untuk tim nasional Yunani nya sepak bola di Kejuaraan Eropa 2004, dan memenangkan turnamen sebagai hasil meskipun berperan sebagai underdog berat.

Ketika Italia berkurang menjadi 10 orang pada menit ke-50 pertandingan Dunia 2006 FIFA putaran Piala 2 melawan Australia, pelatih Marcello Lippi mengubah formasi Italia untuk orientasi defensif yang menyebabkan koran Inggris The Guardian untuk dicatat bahwa "timidity pendekatan Italia telah tampak bahwa Helenio Herrera, pendeta tinggi Catenaccio, telah menguasai jiwa Marcello Lippi. Perlu dicatat, bagaimanapun, bahwa tim pria sedang bermain dengan sepuluh skema 4-3-2 , hanya gelandang jauh dari 4-4-2 biasa.

Setelah Piala Dunia 2006, media mengangkat fakta bahwa sepak bola modern menjadi semakin defensif: jumlah gol yang dicetak di Piala Dunia hanya 147 (rata-rata 2,297 per pertandingan), dan Golden Boot pemenang Miroslav Klose hanya mencetak lima gol yang bertentangan dengan delapan pemenang sebelumnya, Ronaldo.


Dan masih diingat juga dalam benak kita, bagaimana "The Special One" Jose Mourinho kembali menggunakan sistem ini ketika masih melatih Internazionale, dimana di semifinal Liga Champions edisi 2010 Inter berhasil melumat the dream team Barcelona di babak semifinal.

Terkait dengan segala kontroversinya Catenaccio tetaplah salah satu sistem pertahanan terbaik di sepakbola yang pernah ada. Catenaccio rimane la migliore!

-salam-

sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Catenaccio
http://www.google.com/


FC Internazionale Milano menjadi klub keenam dalam sejarah yang menyelesaikan musim dengan gelar treble. Kemenangan atas Bayern Muenchen di final Liga Champions melengkapi gelar scudetto Seri A dan Coppa Italia.

Skuad José Mourinho menundukkan Bayern Muenchen 2-0 di Stadion Santiago Bernabeau, Madrid. Gelar ini menambah koleksi Nerrazurri yang sebelumnya sudah menjuarai Seri A Italia dan merebut trofi Coppa Italia dengan mengalahkan AS Roma 1-0.

Raihan ini menjadikan Inter sebagai tim keenam dalam 55 musim sebelumnya yang mampu meraih tiga gelar sekaligus dalam satu musim. Klub-klub pemenang treble sebelumnya adalah Celtic FC (1967), AFC Ajax Amsterdam (1972), PSV Eindhoven (1988), Manchester United FC (1999) dan FC Barcelona musim lalu.

Inter sebenarnya pernah memiliki kesempatan tahun 1967. Namun saat itu mereka dikalahkan klub Skotlandia Celtic yang bangkit dari ketinggalan untuk menang 2-1 pada partai final di Lisbon.

Inter kembali menjadi korban lima musim kemudian, ketika gol pemain Ajax Stefan Kovács mengantar Johan Cruyff dan kawan-kawan menang 2-0 musim 1971-72. Selanjutnya tim Belanda lain, PSV yang ditangani Guus Hiddink yang menjadi pemenang treble ketiga pada tahun 1988. Mereka menang adu penalti atas SL Benfica di Stuttgart.

Manchester United memastikan tiga gelar tahun 1999 dengan cara yang dramatis. Tertinggal 0-1 mereka menundukkan Bayern Muenchen lewat gol Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solskjaer di Barcelona.

Sementara itu, 12 bulan lalu United balik menjadi korban di tangan Barcelona yang menundukkan mereka 2-0 di Roma. Inter kini menjadi klub keenam yang masuk jajaran elit ini berkat kemenangan 2-0 atas Bayern di Madrid.

Ada beberapa hal menarik dari raihan treble inter, baik untuk klub, presiden maupun pemain inter;
1. Gelaran final Liga Champions kali ini merupakan laga para pemain buangan, bukan saja Sneidjer dan Robben tapi ada juga Esteban Cambiasso, Walter Samuel yang dibuang madrid sebelumnya. ada pula eto’o yang ‘dibuang’ Barca serta Lucio yang didepak Munchen.

2. Gelar Liga Champions adalah pencapaian pertama dari Presiden Inter saat ini, Massimo Moratti mengikuti keberhasilan ayahnya, Angelo Moratti.

3. Dengan menjuarai Liga Champions, Inter Milan mencatatkan diri dalam sejarah sebagai tim Italia pertama yang mampu meraih gelar Treble Winner.

4. Secara tidak langsung inter telah mengalahkan tiga tim juara liga musim ini, Chelsea-Barcelona-Bayern Munchen sekaligus menyelamatkan 4 jatah tim Italia di Liga Champions.

5. Jose Mourinho-allenatore inter menjadi pelatih ketiga dalam sejarah yang mampu mengantarkan 2 tim berbeda menjadi juara Liga Champions.

6. Pertandingan kontra Munchen merupakan penampilan ke 700 bagi kapten Zanneti-pemain dengan julukan The Tractor itu bergabung tahun 1995 dan menjadi kapten intermilan sejak 1999.

7. Diego Milito, pemain bernomor punggung 22 itu kembali menjadi aktor penentu dengan menyumbang 2 gol bagi inter. dalam 2 laga penentuan juara sebelumnya, “iL Principe” juga menjadi aktor penentu bagi inter dengan golnya di Coppa melawan AS Roma dan pekan terakhir Serie-A versus Siena.

8. Di laga final champion melawan Munchen tidak ada pemain Italia dalam starting eleven inter, hanya Materazzi yang baru dimasukkan di injury time.

9. Dan yang lebih Fantastis lagi, Inter satu2nya tim di dunia ini yang mampu meraih Treble Winner dengan menyandang status sebagai Juara di Liga-nya selama 5X ber-turut.

formasi Catenaccio La Grande Inter jilid I

Pelatih yang mempopulerkan taktik catenaccio, Helenio Herrera



Skuad La Grande Inter jilid I

Selasa, 13 Desember 2011



Andik Vermansyah "Lionel Messi dari Indonesia" yang memikat klub-klub Eropa

Andik Vermansyah nama lengkapnya, lahir di Jember, Jawa Timur 23 November 1991. Namanya tak begitu dikenal sebelum ia tampil gemilang bersama timnas Indonesia U-23 di ajang Sea Games 2011 dan berhasil merebut perak. Pada saat itu andik yang biasa beroperasi sebagai gelandang serang mencetak 1 gol dan berhasil menjadi salah satu kunci permainan Indonesia dalam melakukan serangan maupun memutus aliran serangan lawan, walaupun posisi favoritnya adalah gelandang serang namun seringkali ia mundur ke belakang membantu pertahanan, staminanya sekan tidak ada habisnya. Ya bersyukurlah, pemain asli binaan klub Persebaya yang mempunyai tinggi 'hanya' 162 cm ini dikaruniai kemampuan olah bola serta kecepatan lari yang mumpuni, sehingga kadang lawan harus menjatuhkannya untuk menghentikan pergerakannya. Tak salah jika ia mendapat julukan sebagai 'lionel messi-nya Indonesia' dari beberapa media lokal dan bahkan internasional.

Puncaknya ialah ketika Timnas Indonesia bermain melawan klub LA Galaxy yang notabene adalah kampiun MLS Cup pada 30 November 2011 kemarin. Andik tampil begitu luar biasa, kecepatannya membuat beberapa pemain bertahan LA Galaxy kewalahan dan sampai-sampai membuat maestro sepakbola dunia, David Beckham melakukan pelanggaran keras terhadapnya dan pada akhir pertandingan, Beckham pun meminta maaf dengan memberinya kaus miliknya. Pelatih LA Galaxy, Bruce Arena pun tertarik dengan potensi yang dimilki Andik Vermasyah, meskipun banyak pihak yang mengatakan itu hanya pemanis mulut saja.

Tak disangka banyak klub-klub eropa yang juga tertarik untuk merekrut Andik, sebelumnya di beritakan bahwa Direktur Teknik Benfica, Rui Costa pernah mengajukan tawaran untuk mencoba Andik, namun pada waktu itu Andik belum siap karena terkendala bahassa dan Andik belum siap untuk meninggalkan keluarganya di Jawa Timur. Baru-baru ini diberitakan bahwa Benfica kembali menyatakan ketertarikannya kepada Andik, selain itu ada juga klub serie B Italia, Reggina dan terakhir klub Serie A Italia, Novara Calcio. Dalam harian Italia “ItaSportFress” dengan judul NOVARA, fari puntati sul “Messi d’Indonesia” saat ini diberitakan klub Novara sedang membuka jalan pada pemain muda berbakat, dan salah satunya tercantum nama Andik Vermansyah masuk katagori pemain muda yang mempunyai potensi. Novara memang memegang prinsip memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi anak muda. Apalagi dengan prestasi seperti Andik, seperti yang sudah dipantau oleh Direktur Olahraga Novara, Mauro Pederzoli.


"Musim ini telah mencetak 7 gol dalam 17 penampilan. Dia juga mengenakan seragam tim nasional Under-23," demikian juga ditulis oleh situs Italia Sport Press.


Jika jadi direkrut oleh Novara, maka ia akan menjadi pemain asia kedua yang pernah merumput bersama Novara setelah pemain asal Jepang, Takayuki Morimoto dan menjadi pemain ketiga Indonesia yang pernah merumput di tanah Italia setelah Kurnia Sandy dan Kurniawan yang saat itu jebolan program PSSI Primavera pernah memperkuat Sampdoria di tahun 1993. Namun berita terakhir mengungkapkan seperti dilansir kompas.com mengatakan jika Andik lebih berminat main di Amerika ketimbang Eropa. Pemain asal Jember itu mengaku belum ada komunikasi yang dilakukan oleh klub-klub yang disebut-sebut tertarik dengan dirinya, mulai dari Benfica dari Portugal, Novara, hingga Reggina. Hanya saja, Andik memandang kesempatan ini sebagai kesempatan yang baik untuk membuka jalan kecil bagi karier pemain Indonesia di kancah internasional.

"Jika memang nantinya ada penawaran resmi dari Novara, saya ingin mencobanya, dan mencetak sejarah, pemain Surabaya dan Indonesia bisa bermain di Serie A," katanya.

Namun, jika tawaran itu menjadi kenyataan, dia akan mempertimbangkan dengan baik, termasuk soal nilai transfer. Dia berharap nilainya jauh lebih tinggi dari nilai kontrak di Persebaya saat ini.

Ya semoga saja ini tidak menjadi rumor dan ucapan belaka, setidaknya di balik kelamnya persepakbolaan nasional kita saat ini dengan adanya dualisme kompetisi, minimnya prestasi timnas, kasus korupsi, dsb ada secercah harapan untuk persepakbolaan kita melalui sosok 'Lionel Messi dari Indonesia' Andik Vermansyah yang mengharumkan sepakbola Indonesia di luar negeri.

"Benvenuti nella Italiano Andik Vermansyah!!" semoga saja :)

penampilan Andik bersama Tim PON Jatim 2008

penampilan Andik bersama Tim Persebaya

Saat menghadapi Malaysia bersama timnas U23 Indonesia di Sea Games

saat bertukar kaos dengan David Beckham

si spera!!!

No Tawuran No Anarki Just Love Football
Maju Terus Persepakbolaan Indonesia
We are The Good Supporters
Salam


Know us

Contact us

Nama

Email *

Pesan *