Dari polesan tangan Herrera juga dilahirkan beberapa pemain Inter yang menjadi legenda baik di klub maupun timnas Italia. Contohnya seperti Giacinto Facchetti dan juga Sandro Mazzola yang pada saat itu juga menjadi andalan bagi timnas Italia. Herrera mampu membawa Inter menjadi tim yang disegani dengan konsep La Grande Inter-nya. Hasilnya 7 trofi mampu diberikan olehnya bagi klub ini, tentu sebuah pencapaian yang luar biasa bagi seorang pelatih. Dalam sejarah klub, hanya Roberto Mancini yang sanggup memberikan trofi dengan jumlah yang sama dengan Herrera ketika ia melatih Inter di periode 2004-2008.
Jumat, 09 November 2012
Helenio Herrera dan awal kejayaan FC Internazionale
Dari polesan tangan Herrera juga dilahirkan beberapa pemain Inter yang menjadi legenda baik di klub maupun timnas Italia. Contohnya seperti Giacinto Facchetti dan juga Sandro Mazzola yang pada saat itu juga menjadi andalan bagi timnas Italia. Herrera mampu membawa Inter menjadi tim yang disegani dengan konsep La Grande Inter-nya. Hasilnya 7 trofi mampu diberikan olehnya bagi klub ini, tentu sebuah pencapaian yang luar biasa bagi seorang pelatih. Dalam sejarah klub, hanya Roberto Mancini yang sanggup memberikan trofi dengan jumlah yang sama dengan Herrera ketika ia melatih Inter di periode 2004-2008.
Sabtu, 30 Juni 2012
Sedikit Cerita dari Pemain Muslim di Eropa
Beruntung bagi Benzema, puasa tahun ini dia tidak sendirian di Santiago Bernabeu. Setidaknya ada Mahmadou Diarra dan Lassana Diarra yang juga beragama Islam.
Ketiganya tetap menjalankan puasa meski harus membela Madrid, tak heran jika tim dokter Madrid terus memantau perkembangan fisik ketiga pemainnya selama bulan Ramadan. Baik Benzema, Mahmadou dan Lassana diberikan nutrisi tambahan agar tidak terkena dehidrasi selama menjalani ibadah puasa tahun ini.
Beruntung bagi Madrid, Ramadan tidak terlalu berpengaruh besar saat mereka tampil.
- https://akimlinovsisa.wordpress.com/2011/08/23/cerita-tentang-pemain-sepak-bola-muslim-di-eropa/
Kamis, 08 Maret 2012
Berbagai Macam Suporter Inter

Tifosi setia yang selalu hadir di kala Inter bertanding. Loyalitasnya patut diacungi jempol.
Dalam beberapa tahun terakhir, kerusuhan baik di dalam maupun di luar stadion sering pecah di Italia. Banyak yang menganggap segala insiden tak lepas dari ulah kelompok suporter garis keras yang menamakan dirinya Ultras. Dengan segala fanatismenya, Ultras dianggap sering menimbulkan masalah hampir di setiap pertandingan, terlebih yang bernuansa rivalitas.
Namun, ada hal menarik dari kehadiran Ultras di Italia. Sebagai pendukung klub yang paling loyal, Ultras ternyata memiliki hak suara untuk ikut menentukan kebijakan klub. Ultras di Italia juga cenderung lebih terorganisir, bahkan hampir menyerupai sebuah organisasi politik.
Jika dipersempit, Curva Nord 69 (penghuni tribun utara Stadion Giuseppe Meazza), menjadi salah satu dengan jumlah anggota terbanyak di Italia. Menurut data yang dikeluarkan La Republica, Inter menguasai sekitar 16 persen fans fanatik sepak bola di Italia. Mereka hanya kalah dari Juventus (28%), dan penghuni Curva Sud, AC Milan (23%). Namun mereka unggul atas Napoli (9%), AS Roma (7%), dan Lazio (3%).
Curva Nord 69 menjadi salah satu kelompok suporter yang paling disegani di Italia. Bukan hanya dari tindakan anarkis mereka di lapangan, tapi juga dari sisi positif. Sudah 40 tahun sejak 1969 mereka mengabdikan dirinya guna menyemangati setiap Inter bertanding. Jelas dengan usia setua itu, pengaruh mereka pun cukup kental. Bahkan, mantan kapten AC Milan, Paolo Maldini pun sempat mengakui loyalitas pendukung setia rivalnya itu. “Selama ini mereka memang kerap membuat kami khawatir di lapangan, namun saya mengakui loyalitas mereka,” kata dia.
Curva Nord 69 bukan hanya didominasi satu kelompok tifosi saja. Inter memiliki beberapa kelompok Ultras yang selalu setia mendampinginya di setiap laga. Salah satunya Boys S.A.N (Squadre d'Azione Nerazzurre), kelompok Ultras tertua ke dua La Curva Milano setelah Fossa dei Leoni dari Curva Sud. Selain itu, ada juga Ultras Inter, Viking Inter, Brianza Alcoolica, Irriducibili, dan beberapa kelompok minor lain. Mereka inilah yang selalu menyemangati I Nerazzurri.
LA Curva Nord 69 Milano
1. Boys S.A.N (Squadre d'Azione Nerazzurre)

Kelompok tertua di Curva Nord 69. Berdiri pada 1969, hanya selang setahun setelah Fossa dei Leoni pertama kali muncul. Boys diambil dari nama anak nakal di sebuah komik bernama serupa. Di era 80-an Boys S.A.N kian ditakuti sebagai kelompok yang kerap membuat ulah. Namun, sejak awal 90-an, Boys S.A.N meminimalisir aksi anarkis, dan lebih fokus mengekspresikan fanatisme melalui berbagai koreografi di stadion. Sekadar info, Boys S.A.N terbentuk meneruskan ide pelatih Inter ketika itu, Helenio Herrera yang menginginkan terbentuknya sebuah kelompok suporter yang terorganisir dengan rapih.
2. Ultras Inter (Forever Ultras)

Di Curva Nord, Ultras menjadi yang tertua ke dua setelah Boys S.A.N. Mereka berdiri sejak 1975 dengan nama Forever Ultras sebelum diganti pada 1995. Pelopornya adalah dua pemuda bernama Luciano dan Curzio, yang pertama kali memunculkan spanduk bertuliskan Forever Ultras di Curva Nord, tepat berdampingan dengan Boys S.A.N. Sejak 1997, Ivan Renato menjadi sutradara Ultras setelah meneruskan era kepemimpinan sebelumnya.
3. Viking Inter

Kelompok ketiga di Curva Nord ini terbentuk pada 1984. Viking juga dikenal sebagai salah satu pendukung beraliran sayap kanan paling loyal di Italia. Sayang, mereka kerap bersikap rasis. Kebetulan, Viking memang berhubungan sangat dekat dengan Blood & Honour Varese (kelompok suporter yang menolak anti-rasisme di sepak bola). Viking pun menjadi sangat menonjol di Curva Nord dengan indentitas bendera paling besar di antara suporter Ultras Inter lainnya.
4. Brianza Alcoolica

Brianza Alcoolica (semangat Brianza) memang baru resmi didirikan pada November 1985. Namun, berbagai spanduk bertuliskan nama kelompok mereka sudah muncul beberapa tahun sebelumnya di Madrid, Spanyol. Dipelopori oleh beberapa orang yang merasa tidak cocok dengan segala kekerasan Curva Nord, Brianza Alcoolica memisahkan diri dengan idealisme mereka untuk menciptakan hiburan di stadion. Mungkin karena itu pula Brianza Alcoolica menjadi kelompok dengan jumlah suporter paling sedikit di antara lima lainnya.
5. Irriducibili

Irridubicili menjadi kelompok paling kontroversial di antara Ultras Inter lainnya. Berdiri sejak 1988, kelompok ini juga dikenal dengan nama “Skins” ini langsung membuat kericuhan dengan menyerang setiap pendukung lawan yang datang ke Giuseppe Meazza. Ciri khas Irridubicili adalah maskot seekor anjing hitam sebagai lambang kejahatan atau keonaran bernama Muttley. Dengan slogan “Non basta essere Bravi bisogna essere I migliori” (untuk menjadi yang terbaik, tidak cukup dengan bersikap baik), tak heran jika jika Irridubicili kerap berbuat onar di stadion. Bahkan mereka dengan terang-terangan mengaku setiap mendukung Inter, tak akan pernah lepas dari minuman beralkohol.
6. Milano Nerazzurra

Kelompok ini memang lebih kecil dibanding Boys SAN atau lainnya. Namun, mereka justru mampu tampil dengan warna-warna mencolok melalui koreografinya di sisi kiri Curva Nord. Milano Nerazzurra juga mendapat julukan “Potere Nerazzurro” atau Si Hitam Biru yang Kuat. Sejak berdiri sekitar akhir 80-an, Milano Nerazzurri memang telah menyatakan ketidakcocokannya dengan saudara tua mereka, Boys SAN. Tak heran jika letak kedua kelompok ini berjauhan, yang satu di sisi kiri, dan yang satunya di sisi kanan.
7. Boys Sez Roma

Meski Boy Sez Roma lahir dari sekelompok laki-laki yang berasal dari Kota Roma, mereka justru merupakan pendukung fanatik Inter Milan. Sejak awal berdiri pada 1979 lalu, kelompok ini memang membatasi anggotanya di usia 18-30 tahun, dan tentunya dengan satu tujuan mendukung Inter Milan. Boy Sez Roma mengambil posisi di sisi kanan Curva Nord dan berhubungan sangat dekat dengan Boys
Nah, di Indonesiapun ada Kelompok Interisti yang membentuk Organisasi bagi Interisti di Indonesia yang terkenal mungkin ada dua yaitu Inter Club Indonesia (ICI) sebagai ofisial resmi Interisti di Indonesia dan ada Indonesia Nerazzurra (IN), dan berikut sejarah singkatnya brader/sista:
Inter Club Indonesia (ICI)

Sejarah organisasi Inter Club Indonesia bermula dari mailing list \n inter-mania@yahoogroups.comyang dibentuk pada 30 Juli 2001. Tujuan awal dibuatnya mailing list ini adalah sebagai wadah untuk saling berbagi dan sarana untuk bertukar informasi seputar klub Inter Milan. Pada akhir juni 2003, teman-teman di mailing list ini ditawari untuk melakukan interview oleh SCTV yang sedang membuat format acara baru yaitu Centro Campo. Salah satu bentuk program acaranya adalah mengadakan wawancara dengan fans club Italia yang ada di Indonesia (Jakarta).
Pada akhir 2006 tepatnya tanggal 10 September 2006, para anggota Internazionale Indonesia Fans Club (I2FC) kembali berkumpul mengadakan gathering sekaligus mengadakan rapat pembentukan pengurus di Food Court Mall Taman Anggrek untuk menghidupkan roda organisasi yang sempat vakum karena kesibukan para pengurusnya. Hasil rapat/gathering pembentukan kepengurus tersebut antara lain adalah :
• Menyatakan dibentuknya kepengurusan baru dengan nama Inter Club Indonesia (ICI) dan sekaligus menyatakan berakhirnya kepengurusan Internazionale Indonesia Fans Club (I2FC) lama.
Seiring dengan meningkatnya prestasi Inter sejak era kepelatihan Mancini, member Inter Club Indonesia pun semakin meningkat dan diharapkan akan terus berkembang. Kegiatan2 yang dilakukan rutin oleh ICI antara lain kegiatan olah raga (futsal), nonton bareng, merupakan sarana untuk lebih mempererat rasa kekeluargaan dan kekompakan diantara anggota.
Kepengurusan Periode 2008 - 2011
Bertempat di Izzi Pizza Pancoran, Minggu 12 Oktober 2008, ICI mengadakan acara gathering untuk memilih pengurus2 baru untuk menggantikan pengurus lama yang habis masa jabatannya. Program kerja kepengurusan baru ini terfokus kepada persiapan untuk menjadi Official Fans Club yang diakui oleh FC INTER, menjadi bagian dari Inter Club yang telah ada sebelumnya dan tersebar di seluruh dunia. Semoga cita2 luhur dan impian setiap Interisti Indonesia ini dapat menjadi kenyataan.
Dengan kepengurusan baru ini diharapkan organisasi Inter Club Indonesia dapat semakin berkembang sebagai wadah untuk menampung aspirasi para pecinta Inter Milan yang ada di Indonesia.
situs webnya: http://www.interclubindo.com
Indonesia Nerazzurra

“Berawal dari keinginan founder untuk untuk memperluas cakupan organisasi dan munculnya sambutan baik dari beberapa daerah di Indonesia, akhirnya kami bertransformasi menjadi IN,” kata Wan Havid Adris, Divisi Membership IN.
Sambutan itu berbuah dalam pertumbuhan anggota IN yang kini mencapai 86 orang. Anggota-anggota tersebut kini tersebar di lima kota di Indonesia, yakni di Bandung sebagai pusat, Distretto Cirebon, Distretto Baturaja, Distretto Padang, sampai Distretto Ambon.
“Rencana pengembangan distretto kita di kota lain pasti ada. Kami tak memiliki patokan untuk menambah distretto mana yang akan kami pilih selanjutnya. Kami terbuka untuk daerah mana saja yang bersedia bergabung dengan IN. Di atas segalanya, kami memakai konsep quality over quantity,” jelas Havid. “Dengan konsep ini berarti kami lebih mementingkan kualitas anggota daripada jumlah anggota. Agar rasa kekeluargaannya lebih kental terasa, meski dengan jumlah anggota yang sedikit.”
Selain konsep itu, IN juga mengusung jargon Noi Siamo Noi yang kurang lebih berarti “Inilah Kami”. Lewat jargon ini, IN ingin menunjukkan eksistensi mereka sebagai kelompok suporter Inter Milan. “Inilah kami sang pendukung Inter, hanya kami tidak ada yang lain bagi kami,” tegas Havid lagi.
Guna memperkuat identitas mereka, IN menggunakan gambar ular dalam perisai sejak berdiri pada 22 Maret lalu. Penggunaan logo ini bukan tanpa alasan. “Kami menggunakan logo itu untuk menghormati legenda Milano, yaitu Il Biscione (Si Ular Besar). Gambar ular itu kami gabungkan dengan perisai yang kami pilih sebagai pertanda identitas pendukung dan pembela sang idola, I Nerazzurri,” bilang Havid.
TAK MINIM KEGIATAN
Meski baru berusia muda dan harus belajar banyak dalam menjalankan roda organisasi, ternyata tidak membuat IN minim kegiatan. Seperti halnya kelompok suporter lainnya, IN selalu menggelar acara nonton bareng Inter di salah satu kafe di Kota Bandung di bilangan Ciumbuleuit dan menggelar kegiatan rutin futsal setiap minggunya.
“Kami juga pernah membentangkan spanduk IN di salah satu sudut Stadion Si Jalak Harupat guna mendukung timnas U-19 Indonesia di babak kualifikasi Piala Asia lalu. Hal tersebut membuktikan IN masih memperlihatkan kepedulian terhadap perkembangan sepak bola nasional,” cetus Havid.
Semua kegiatan itu direkam dalam forum dunia maya dengan alamat http://www.indonesianerazzurra.com . Dalam forum ini juga direkam berbagai interaksi antaranggota berupa forum diskusi, galeri foto kegiatan, artikel, dan lainnya. “Forum ini sangat berguna sebagai ajang silaturahim sesama Interisti se-Indonesia dan sebagai ajang untuk saling tukar informasi,” kata Havid.
Ke depan, IN ingin terus mengalir layaknya air dengan mengikuti perkembangan zaman. “Untuk saat ini kami memang belum memiliki AD/ART, tapi kami sedang dalam proses pembuatannya. Meski belum ada, namun kami bertekad untuk mempererat silaturahmi antaranggota yang kebetulan sesama Interisti. Kami ingin wadah ini diakui sebagai organisasi resmi Inter, meski itu bukan prioritas utama saat ini,” kata Havid.
“Apa pun itu, pada dasarnya, IN adalah wadah penyaluran hobi bersama orang-orang yang memiliki hobi sama. Itu saja,” pungkas dia.(Ruri)
itu tadi sejarah terbentuknua IN, sekarang website resmi Indonesia Nerazzurra berganti menjadi www.indonesia-nerazzurra.com
situs webnya: http://indonesia-nerazzurra.com/IN/
ANNI 104th FC Internazionale Milano
Hope the Next Season better than This Season
FORZA INTER PER SEMPRE
-salam-
sumber:
- http://gilrandypraira.blogspot.com/2010/12/macam-suporter-inter-tanpa-milan.html
- http://google.com
- http://www.facebook.com/InterClubIndonesia
- http://indonesia-nerazzurra.com/IN/
- http://www.interclubindo.com
Rabu, 01 Februari 2012
Total Football dan Keindahan Sepakbola khas Belanda
Pertama ane ambil artikel dari wikipedia.com
Yang standar tentu saja kita tahu bahwa sistem ini pertama kali muncul di Belanda dengan permainan bertumpu pada fleksibilitas pertukaran posisi pemain yang mulus. Posisi pemain sekadar kesementaraan yang akan terus berubah sesuai kebutuhan. Karenanya, semua pemain dituntut untuk nyaman bermain di semua posisi.
Penjelasan paling memuaskan malah bukan saya dapat dari orang Belanda, melainkan seorang penulis Inggris yang tergila-gila dengan sepakbola Belanda. David Winner menulis buku yang kalau diterjemahkan bebas kira-kira berjudul, "Oranye Brilian -- Jenius dan Gilanya Sepakbola Belanda".
Orang Belanda sendiri sampai terkagum-kagum dan mengatakan, ''Ah, jadi begitukah cara berpikir kami.'' Banyak pemain bola Belanda seperti tersadarkan pada sosok yang berada di dalam kaca ketika mereka bercermin.
Winner tidak membahas sepakbola semata. Menurutnya Total Football hanyalah pengejawantahan ''psyche'' paling dasar warga Belanda dalam memahami kehidupan. Benang merah Total Football juga ada dalam karya seni, arsitektur, dan bahkan tatanan sosial budaya masyarakat Belanda.
Berlebihan? Mungkin. Namun penjelasannya sungguh masuk akal.
Kita semua tahu ukuran lapangan sepakbola lebih kurang sama di mana-mana, sehingga ruang permainan selalu sebenarnya sama. Tapi orang Belanda sadar bahwa ruang juga adalah persoalan abstrak di dalam kepala. Membesar dan mengecilnya ruang tergantung pada cara mengeksploitasinya.
Total Football, demikian jelas buku itu, adalah persoalan ruang dan eksploitasinya itu, bukan yang lain. Fleksibilitas posisi pemain, pergerakan pemain, semuanya adalah konsekuensi dari upaya untuk menciptakan ruang agar bisa dieksploitir semaksimal mungkin.
Prinsip dasarnya sebenarnya sangat sederhana. Besar kecilnya lapangan sepakbola walau ukurannya sama, tetapi di benak bisa berubah tergantung siapa yang bermain di dalamnya.
Misalnya, begitu pemain Belanda menguasai bola maka mereka akan membuat lapangan seluas mungkin. Pemain bergerak ke setiap jengkal ruang yang tersedia. Di benak lawan lapangan akan tampak begitu lebar.
Atau, begitu lawan menguasai bola, ruang harus dibuat sesempit mungkin. Pemain yang terdekat dengan pemain lawan yang menguasai bola dituntut untuk menutupnya secepat mungkin, tidak peduli apakah itu pemain bertahan atau bukan. Bisa satu bisa dua, bahkan tiga. Tekanan harus dilakukan secepat mungkin bahkan ketika bola masih ada di jantung pertahanan lawan. Lawan terjepit dalam benak bahwa lapangan begitu sempit.
Memperlebar atau mempersempit ruangan di benak lawan tentu bukan barang mudah. Harus ada kemampuan untuk mencari ruangan. Pergerakan yang kompak. Cara mengumpan bola yang eksploitatif atas ruang yang tersedia, entah melengkung, lurus, melambung, dll. Pendeknya dibutuhkan pemahaman geometri ruangan yang tidak sederhana.
Persoalannya adalah, mengapa hal ini tidak terpikirkan oleh orang lain sebelumnya? Dan mengapa orang Belanda yang bisa melakukannya?
Jawabnya, menurut buku itu, didapat dari kondisi alam Belanda.
Bangsa Belanda secara intrinsik bangsa yang spatial neurotic (tergila-gila oleh ruangan ataupun pemanfaatannya). Kondisi alam memaksa mereka demikian. Lima puluh persen tanahnya berada di bawah permukaan laut. Sementara sisanya terlalu sempit untuk jumlah penduduk yang berjubel.
Terus menerus bangsa ini melakukan reklamasi untuk memperluas daratan. Dengan sadar persoalan tanah mereka atur dengan sangat disiplin dan ketat. Eksistensi bangsa ini tergantung bagaimana mereka merawat tanah yang tak seberapa mereka punya. Kanal, selokan air, bendungan kecil dan besar, teratur rapi membelah setiap jengkal tanah yang mereka punya.
Belanda hingga saat ini adalah negara paling padat dalam ukuran per meter persegi, dan pengaturan tanahnya adalah yang paling teratur di muka bumi.
Namun seberapa pun mereka mencoba, seberapa pun disiplinnya, tanah tidak akan pernah cukup tersedia.
Lalu apa yang dilakukan?
Jawabnya ada di daya khayal, di benak, di alam abstraksi. Di samping secara fisik mereka mencoba memperluas wilayah darat mereka, mereka juga menciptakan ruang yang luas dialam khayal mereka.
Kalau Anda kebetulan datang ke Eropa, bandingkanlah tata kota Belanda dengan negara lain. Kita akan segera sadar bahwa Belanda memang lebih sempit tapi tata kotanya dibuat sedemikian rupa rapi, sehingga terasa sangat longgar. Dibanding negara manapun di dunia, tata kota di Belanda adalah yang paling kompak di dunia.
Arsitektur bangunannya, baik yang tua maupun modern, terasa sangat inovatif, dengan sudut yang sering tidak normal, bentuk bangunan yang tidak umum, aneh, tetapi kesannya selalu sama—longgar dan lapang. Karena semua lekuk ketidaknormalan adalah bagian dari upaya untuk menciptakan ruang tambahan di alam khayal tadi.
Bahkan benak juga dilonggarkan untuk urusan norma sosial. Kalau etika Protestan semarak di Belanda di awal kelahirannya, sangatlah bisa dimengerti. Mereka secara instingtif akan memberontak terhadap segala sesuatu yang sifatnya mengukung. Dalam kasus kelahiran Protestan tentu saja pemberontakan atas kungkungan ajaran Katolik saat itu.
Proses itu terus berlanjut hingga sekarang. Kita tahu norma sosial Belanda adalah yang paling longgar di Eropa. Kelonggaran yang tetap diatur. Misalnya, mainlah ke Vondell Park di Amsterdam, bolehlah Anda menghisap ganja atau mariyuana dengan santai. Padahal di negara lain sembunyi-sembunyi pun Anda tidak boleh.
Jejak-jejak spatial neurotic ini bisa kita temukan dengan mudah di karya-karya seni mereka bahkan di kehidupan politik, tetapi kembali ke persoalan sepakbola, mentalitas pemain sepakbola juga sama persis. Ketika mereka turun ke lapangan, benak mereka selalu bermain-main dengan keinginan untuk menciptakan ruangan selonggar mungkin, lalu mengeksploitasinya.
Ketika Rinus Michel membawa Ajax menjadi juara Piala Champions tahun 1971, Eropa tersadarkan sebuah sistem baru yang mulai sempurna telah lahir. Sistem yang lahir dari psyche orang Belanda yang tergila-gila dengan ruang dan pemanfaatannya. Dan ketika Michel membawa Belanda ke final Piala Dunia 1974 lahirlah istilah Total Football.
Total Football sendiri sebenarnya meminjam penamaannya dari gerakan sosial yang digagas para arsitek-filosof terkemuka Belanda sekitar tahun 1970-an. Sebuah gerakan bernama Total. Memahami kehidupan perkotaan secara menyeluruh: mengatur urbanisasi, lingkungan, dan pemanfaatan energi dalam satu totalitas. Agar ruang yang tersedia di Belanda bisa termanfaatkan secara maksimal. Dan sepakbola adalah sebuah hiburan bagian dari pendekatan yang menyeluruh itu. Totalitas. Namanya: Total Football.
Kita sendiri berharap skema total footbal ini bisa terus diperagakan. Tim Spanyol dalam Kejuaraan Eropa 2008 lalu telah memeragakannya dengan cukup baik. Kita tidak ingin skema pemianan bertahan a la Italia yang menguasai dunia. Italia adalah tempat lahirnya konsep Catenaccio, sebuah konsep sepak bola bertahan. Dan dunia menangis ketika negative football Italia yang diperagakan Paolo Rossi dkk berhasil menjadi Juara Dunia 1982, menaklukan tim sepakbola indah yang dipimpin Zico dan Socrates.
Sepakbola masa depan adalah sepakbola yang indah. Sebuah permainan yang tak hanya ingin menang, namun menang dengan cara permainan yang penuh pesona. Seperti tim Belanda 1974, atau Tim Brasil 1970 dibawah Pele, atau Tim Argentina 1986 dibawah Maradona, atau Tim Perancis 1984 dibawah Michael Platini.
Jadi jelaslah kalo Total Football memberikan warna tersendiri dalam sepakbola di saat banyak sistem permainan sepakbola seperti Italia dengan Catenaccionya, Inggris dengan Kick n Rushnya ataupun Brazil dengan Joga Bonitonya.


Sabtu, 28 Januari 2012
Catenaccio, Sistem Pertahanan Gerendel khas Italia
Sejarah Catenaccio
Sistem ini pertama kali dibuat terkenal oleh Franco Helenio Herrera-Argentina pelatih Internazionale yang menciptakan 'La Grande Inter' pada dekade 1960-an.
Sistem Catenaccio awalnya dipengaruhi oleh verrou ("doorbolt / rantai" dalam bahasa Perancis) sistem ini diciptakan oleh pelatih Austria Karl Rappan. Sebagai pelatih dari Swiss pada 1930-an dan 1940-an, Rappan memainkan penyapu defensif disebut verrouilleur, yang sangat defensif dan diposisikan tepat di depan kiper. Pada tahun 1950, Nereo Rocco mulai merintis sistem ini di Italia saat menangani Padova, di mana nantinya sistem ini yang akan digunakan dan dikembangakan lagi oleh tim Internazionale dari awal 1960-an.
Rappan menciptakan sistem verrou, diusulkan pada tahun 1932 ketika melatih Servette, dilaksanakan dengan empat pembela tetap, memainkan sistem man-to-man menandai ketat, ditambah playmaker di tengah lapangan yang bermain bola bersama dengan dua sayap lini tengah.
Taktik Rocco, sering disebut sebagai Catenaccio "nyata", yang muncul pertama kali pada tahun 1947 dengan Triestina: modus yang paling umum dari operasi adalah formasi 1-3-3-3 dengan pendekatan tim defensif ketat. Dengan catenaccio, Triestina selesai Serie A turnamen di tempat kedua mengejutkan. Beberapa variasi 1-4-4-1 dan 1-4-3-2 meliputi formasi.
Inovasi kunci dari Catenaccio adalah pengenalan tentang peran libero, atau penyapu, pemain diposisikan di belakang garis tiga bek. Peran penyapu adalah untuk memulihkan bola longgar, meniadakan striker lawan dan double-tanda bila diperlukan. Inovasi penting lainnya adalah serangan balik, terutama didasarkan pada umpan-umpan panjang dari pertahanan.
Dalam versi Herrera pada tahun 1960, empat pria-menandai pembela erat ditugaskan untuk setiap penyerang lawan sedangkan penyapu tambahan akan mengambil setiap bola lepas yang luput dari jangkauan pembela. Penekanan dari sistem ini dalam sepak bola Italia melahirkan munculnya banyak bek tangguh seperti Gentile, Gaetano, Scirea, Claudio dan pada 1970-an, lalu ada duet Inter Milan Giuseppe Bergomi dan Franco Baresi. Dan juga pada 1980-an kuartet bek Italia di AC Milan: Baresi, Paolo Maldini, Alessandro Costacurta dan Mauro Tassotti. Tahun 1990-an dan 2006 juara Piala Dunia Fabio Cannavaro dan Alessandro Nesta dan banyak orang lain di tahun 2000 dimana tim nasional Italia menjadi terkenal.
Selama bertahun-tahun, Catenaccio asli telah perlahan-lahan ditinggalkan bagi yang lain, pendekatan taktis lebih seimbang, khususnya, meningkatnya popularitas diperoleh oleh pendekatan berbasis menyerang seperti Total Football telah memberikan kontribusi untuk membuat taktik catenaccio masa lalu.
Catenaccio nyata tidak lagi digunakan dalam dunia sepak bola modern. Dua karakteristik utama dari gaya ini - orang-to-man marking dan posisi libero - tidak lagi digunakan. Apa yang banyak [siapa?] Pertimbangkan Catenaccio agak gaya hiper-defensif atau mundur untuk membela dari tim, dengan gerakan maju langka. Gaya hiper-defensif masih sering disebut sebagai Catenaccio. Saat ini, Catenaccio digunakan terutama oleh tim yang lebih lemah, dalam rangka untuk mengurangi kesenjangan teknis melawan tim kuat dengan menunjukkan pendekatan yang lebih fisik untuk sepakbola. Hilangnya lambat dari peran petugas forensik di sepak bola modern telah juga memberikan kontribusi terhadap penurunan dalam penggunaannya.
Sistem Catenaccio sering dikritik karena mengurangi kualitas permainan sepak bola sebagai tontonan. Dalam bagian-bagian tertentu dari Eropa, itu menjadi sinonim dengan sepakbola negatif karena fokusnya adalah pada membela begitu banyak. Banyak wartawan dan pelatih telah menyerukan ini syle bermain "sepak bola anti-".
Satu kesalahan yang sering adalah untuk mendefinisikan Catenaccio sebagai sistem pertahanan taktis yang digunakan oleh sebuah tim sepak bola. Ini sebenarnya tidak benar, karena Catenaccio hanyalah salah satu taktik defensif yang mungkin yang dapat digunakan. Saat ini, Catenaccio digunakan kurang dan kurang oleh tim atas, dan umumnya hanya dalam kondisi tertentu, seperti ketika menderita inferioritas numerik menyusul. Mengirim off, atau ketika perlu untuk membela scoreline marjinal sampai akhir pertandingan
Catenaccio sering dianggap biasa dalam sepakbola Italia, namun, sebenarnya jarang digunakan oleh tim Serie A Italia, yang sebaliknya lebih memilih untuk menerapkan beberapa, lainnya lebih modern, sistem taktis, seperti 4-4-2 dan lain-lain. Hal ini tidak berlaku untuk tim sepakbola nasional Italia, namun. Pelatih sebelumnya Italia, Cesare Maldini dan Giovanni Trapattoni, digunakan Catenaccio di tingkat internasional, dan keduanya gagal mencapai puncak. Italia, di bawah Maldini, kalah adu penalti di Piala Dunia 1998 babak perempat final, sementara Trapattoni hilang di awal babak kedua di Piala Dunia 2002 dan kalah di UEFA Euro 2004 selama putaran pertama, meskipun setelah ini, Trapattoni akan berlaku Catenaccio sepakbola berhasil, mengamankan gelar Liga Portugal dengan Benfica. Namun, Dino Zoff digunakan untuk digunakan baik untuk Italia, mengamankan satu tempat di final Kejuaraan Eropa tahun 2000, yang hanya hilang Italia pada aturan "emas tujuan".
Namun, pelatih asal Jerman Otto Rehhagel menggunakan sistem serupa untuk tim nasional Yunani nya sepak bola di Kejuaraan Eropa 2004, dan memenangkan turnamen sebagai hasil meskipun berperan sebagai underdog berat.
Ketika Italia berkurang menjadi 10 orang pada menit ke-50 pertandingan Dunia 2006 FIFA putaran Piala 2 melawan Australia, pelatih Marcello Lippi mengubah formasi Italia untuk orientasi defensif yang menyebabkan koran Inggris The Guardian untuk dicatat bahwa "timidity pendekatan Italia telah tampak bahwa Helenio Herrera, pendeta tinggi Catenaccio, telah menguasai jiwa Marcello Lippi. Perlu dicatat, bagaimanapun, bahwa tim pria sedang bermain dengan sepuluh skema 4-3-2 , hanya gelandang jauh dari 4-4-2 biasa.
Setelah Piala Dunia 2006, media mengangkat fakta bahwa sepak bola modern menjadi semakin defensif: jumlah gol yang dicetak di Piala Dunia hanya 147 (rata-rata 2,297 per pertandingan), dan Golden Boot pemenang Miroslav Klose hanya mencetak lima gol yang bertentangan dengan delapan pemenang sebelumnya, Ronaldo.
Dan masih diingat juga dalam benak kita, bagaimana "The Special One" Jose Mourinho kembali menggunakan sistem ini ketika masih melatih Internazionale, dimana di semifinal Liga Champions edisi 2010 Inter berhasil melumat the dream team Barcelona di babak semifinal.
Terkait dengan segala kontroversinya Catenaccio tetaplah salah satu sistem pertahanan terbaik di sepakbola yang pernah ada. Catenaccio rimane la migliore!
-salam-
http://www.google.com/
Menanti La Grande Inter jilid II
Skuad José Mourinho menundukkan Bayern Muenchen 2-0 di Stadion Santiago Bernabeau, Madrid. Gelar ini menambah koleksi Nerrazurri yang sebelumnya sudah menjuarai Seri A Italia dan merebut trofi Coppa Italia dengan mengalahkan AS Roma 1-0.
Raihan ini menjadikan Inter sebagai tim keenam dalam 55 musim sebelumnya yang mampu meraih tiga gelar sekaligus dalam satu musim. Klub-klub pemenang treble sebelumnya adalah Celtic FC (1967), AFC Ajax Amsterdam (1972), PSV Eindhoven (1988), Manchester United FC (1999) dan FC Barcelona musim lalu.
Inter sebenarnya pernah memiliki kesempatan tahun 1967. Namun saat itu mereka dikalahkan klub Skotlandia Celtic yang bangkit dari ketinggalan untuk menang 2-1 pada partai final di Lisbon.
Inter kembali menjadi korban lima musim kemudian, ketika gol pemain Ajax Stefan Kovács mengantar Johan Cruyff dan kawan-kawan menang 2-0 musim 1971-72. Selanjutnya tim Belanda lain, PSV yang ditangani Guus Hiddink yang menjadi pemenang treble ketiga pada tahun 1988. Mereka menang adu penalti atas SL Benfica di Stuttgart.
Manchester United memastikan tiga gelar tahun 1999 dengan cara yang dramatis. Tertinggal 0-1 mereka menundukkan Bayern Muenchen lewat gol Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solskjaer di Barcelona.
Sementara itu, 12 bulan lalu United balik menjadi korban di tangan Barcelona yang menundukkan mereka 2-0 di Roma. Inter kini menjadi klub keenam yang masuk jajaran elit ini berkat kemenangan 2-0 atas Bayern di Madrid.
Ada beberapa hal menarik dari raihan treble inter, baik untuk klub, presiden maupun pemain inter;
1. Gelaran final Liga Champions kali ini merupakan laga para pemain buangan, bukan saja Sneidjer dan Robben tapi ada juga Esteban Cambiasso, Walter Samuel yang dibuang madrid sebelumnya. ada pula eto’o yang ‘dibuang’ Barca serta Lucio yang didepak Munchen.
2. Gelar Liga Champions adalah pencapaian pertama dari Presiden Inter saat ini, Massimo Moratti mengikuti keberhasilan ayahnya, Angelo Moratti.
3. Dengan menjuarai Liga Champions, Inter Milan mencatatkan diri dalam sejarah sebagai tim Italia pertama yang mampu meraih gelar Treble Winner.
4. Secara tidak langsung inter telah mengalahkan tiga tim juara liga musim ini, Chelsea-Barcelona-Bayern Munchen sekaligus menyelamatkan 4 jatah tim Italia di Liga Champions.
5. Jose Mourinho-allenatore inter menjadi pelatih ketiga dalam sejarah yang mampu mengantarkan 2 tim berbeda menjadi juara Liga Champions.
6. Pertandingan kontra Munchen merupakan penampilan ke 700 bagi kapten Zanneti-pemain dengan julukan The Tractor itu bergabung tahun 1995 dan menjadi kapten intermilan sejak 1999.
7. Diego Milito, pemain bernomor punggung 22 itu kembali menjadi aktor penentu dengan menyumbang 2 gol bagi inter. dalam 2 laga penentuan juara sebelumnya, “iL Principe” juga menjadi aktor penentu bagi inter dengan golnya di Coppa melawan AS Roma dan pekan terakhir Serie-A versus Siena.
8. Di laga final champion melawan Munchen tidak ada pemain Italia dalam starting eleven inter, hanya Materazzi yang baru dimasukkan di injury time.
9. Dan yang lebih Fantastis lagi, Inter satu2nya tim di dunia ini yang mampu meraih Treble Winner dengan menyandang status sebagai Juara di Liga-nya selama 5X ber-turut.

Selasa, 13 Desember 2011















